Wednesday, 5 April 2023

ORPHANED CHILDREN

 Orphaned Children: The Struggle and Triumph of Overcoming Adversity

Losing a parent is one of the most difficult experiences anyone can go through, especially for a child. Children who lose one or both parents to death or abandonment are known as orphans. These children often face unique challenges and struggles in life, but they also possess incredible strength and resilience.

An orphaned child may experience a range of emotions, including sadness, anger, confusion, and loneliness. They may feel like they are different from other children and struggle to fit in. Many orphans also face financial difficulties, as they may not have access to the same resources and opportunities as other children.

Despite these challenges, many orphaned children are able to overcome adversity and achieve great success in life. One example is J.K. Rowling, the author of the Harry Potter series. Rowling was orphaned at a young age and faced financial difficulties, but she was able to use her love of writing to create a world of magic and imagination that has captivated millions of readers around the world.

Orphanages and other support systems can provide important resources and guidance to orphaned children. These organizations can offer a stable home environment, access to education and healthcare, and opportunities for personal and social development. However, not all orphanages provide the same level of care, and some children may face neglect or abuse in these institutions.

One alternative to institutional care is foster care, where children are placed with families who can provide them with a stable home environment and support system. Foster care can offer many benefits, including emotional support, educational opportunities, and the chance to form healthy relationships with adults and peers.

In conclusion, being an orphaned child is a difficult and often traumatic experience. However, with the right support and resources, these children can overcome adversity and achieve great things in life. As a society, it is our responsibility to ensure that all children, regardless of their background or circumstances, have the opportunity to thrive and succeed.

Wednesday, 28 September 2011

Anak yatim piatu penyejuk hati

Inginkah hati Anda menjadi lembut dan damai? Rasulullah SAW memberi resep untuk itu. Kata beliau, ”Bila engkau ingin agar hati menjadi lembut dan damai dan Anda mencapai keinginanmu, sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berilah dia makanan seperti yang engkau makan. Bila itu engkau lakukan, hatimu akan tenang serta lembut dan keinginanmu akan tercapai. (HR Thabrani).

Hadis tersebut memberikan petunjuk kepada umat Islam bahwa salah satu sarana untuk menenangkan batin dan mendamaikan hati ini adalah mendekati anak yatim, terlebih yatim piatu. Mengusap kepala mereka dan memberinya makan minum merupakan simbol kepedulian dan perhatian serta tanggung jawab terhadap anak yatim/piatu.

Berbuat baik terhadap anak yatim/piatu bukanlah sekadar turut membantu menyelesaikan lapar dan dahaga sosialnya. Tetapi, di sisi lain perbuatan itu merasuk ke dalam batin, menenteramkan hati, dan mendamaikan perasaan orang yang memberi perhatian kepada mereka. Berbagai ayat Alquran dan hadis Nabi banyak membicarakan betapa mulianya kedudukan anak yatim/piatu di mata Allah SWT.

Di dalam surat Ad-Dhuha ayat 9, Allah SWT melarang untuk melakukan kekerasan kepada anak yatim/piatu. Firman Allah SWT: ”Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.” Anak yatim yang ditinggal wafat oleh ayahnya dan yatim piatu yang ditinggalkan ayah-ibunya, mendambakan belaian dan kasih sayang dari orang lain. Baik keluarga terdekat maupun dari yang lainnya. Ia mengharapkan tumpuan kasih sayang dan sebaliknya juga sekaligus menjaga sumber kasih dan ketenangan itu. Orang yang menenangkan hati dan perasaan anak yatim, ia pun akan memperoleh balasan seperti itu pula, yakni ketenangan batin.

Rasulullah SAW terkenal dengan kelemahlembutannya yang demikian tinggi terhadap anak yatim/piatu. Diriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa pada suatu hari raya Idul Fitri, Rasulullah SAW melihat seorang anak yatim, lalu beliau mengelus dan merangkulnya, berbuat baik padanya, membawa anak itu ke rumah beliau, lalu berkata kepada anak yatim itu, ”Wahai anak, maukah engkau bila aku menjadi ayahmu dan Aisyah menjadi ibumu?”

Jadi, anak yatim/piatu adalah sumber ketenangan batin, mendekati dan berbuat baik kepadanya akan menenangkan kalbu. Sebaliknya, jikalau anak yatim disakiti dan dizalimi, maka Allah SWT akan menurunkan kesengsaraan hidup kepada mereka yang berbuat sewenang-wenang itu.